blog pai poenja

APBD yang aneh #tuingtuing

Posted in Gado-Gado CampuR aduK,, by paibiopai on April 29, 2011

waktu jalan-jalan ke suatu daerah, saya menemukan hal yang menarik :

woooo,, ginian pake diatur di APBD lho..

(hmm, setelah pergi sedikit menjauh dari lokasi, baru tersadar)

he? kok APBD? perasaan APBD tu kan kepanjangannya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah,,

klo kata wikipedia,

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), adalah rencana keuangan tahunan pemerintah daerah di Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. APBD ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Tahun anggaran APBD meliputi masa satu tahun, mulai dari tanggal 1 Januari sampai dengan tanggal 31 Desember.

APBD terdiri atas:

  • Anggaran pendapatan, terdiri atas
    • Pendapatan Asli Daerah (PAD), yang meliputi pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan daerah, dan penerimaan lain-lain
    • Bagian dana perimbangan, yang meliputi Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus
    • Lain-lain pendapatan yang sah seperti dana hibah atau dana darurat.
  • Anggaran belanja, yang digunakan untuk keperluan penyelenggaraan tugas pemerintahan di daerah.
  • Pembiayaan, yaitu setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya.

hmm, kok diaturnya di APBD ya? kok bukan di peraturan pemerintah daerah, ato di perundang-undangan gitu.. hmm,, asa ga ada nyambung-nyambungnya ma apbd,,

#curigamode

klo dilihat dari kontennya, nikah kudu umur segitu minimal yak? Lha terus, klo belum umur segitu, pacaran aja?

jaman sekarang, pacaran udah banyak diisi ma hal-hal mesum niy, knapa ga sekalian dinikahin aja noh, biar halal n malah ibadah kan yak?

trus, disuruh nikah minimal umur segitu, tapi asupan info-info ‘dewasa’ sudah bisa masuk dengan mudah ke kamar-kamar anak muda lewat internet dan hape, dan ga diimbangin ma dasar agama yang cukup kuat,, mana bisa nahaaann ??

ato baiknya gimana siy?

Tagged with: , ,

42 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. muthi said, on May 20, 2011 at 2:33 pm

    hai pai..lebih banyak lagi media yang aneh ttg hal ini..
    ada baligo besar dengan 2 gambar yang satu ibuibu gaya bawa hape soping di mall. satu lagi ibu2 wajah cemberut kelihatan kerepotan ngurus anaknya.
    tulisannya. nikah perlu rencana kalau ngga bisa jadi bencana.

    nah loh ga nyambung kan sama gambarnya..seolah2 repot ngurus anak adalah bencana, padahal itu mah sunatullahnya gtu. ah dasar Bkk*n suka buat sesuatu yg gajelas nih.

    belum lagi iklan sinta jojo yang aneh suraneh ttg nikah muda dan sejumlah iklan Bkk*N lainnya..heug.

  2. asudomo said, on May 5, 2011 at 11:00 pm

    sepertinya plang itu dibuat dengan menggunakan dana APBD 2007, saya sering kok melihat barang-barang plat merah dengan tulisasn seperti itu
    biasanya klo ga APBD tulisannya nama proyek yang mendanai pembuatan papan nama itu
    Klo menurut saya sih gitu

    • paibiopai said, on May 10, 2011 at 6:40 pm

      hehe, iya mas, saya yang salah tafsiir,, tapi aneh juga ya, apbd dipake ngebuat ginian.. hmm

  3. Oranjee said, on May 3, 2011 at 3:31 pm

    Maksudnye Hwa itu siapa ??

  4. Oranjee said, on May 3, 2011 at 2:53 pm

    Hahaa. Hwa? Who is she ?
    LOL lagii๐Ÿ˜€

    *Loud Of Laugh=ketawa ngakak

    • paibiopai said, on May 3, 2011 at 3:05 pm

      she? maksudnya ‘she’ ini merefer ke siapa hwa?

      hoooo, baru tau saia.. seip lah

  5. yoriyuliandra said, on May 3, 2011 at 6:08 am

    Iklan dan plang infonya emang aneh ya. Aneh mengapa…?
    1. Secara substansi, perihal yang dikampanyekan mungkin nggak salah2 amat, tapi apakah musti diiklankan???
    2. Pemilik kampanye adalah APBD, kok??? atau ada apbd lain yang maksudnya berbeda???
    3. Remaja bijak?? Berarti saya gak bijak dong. Bahasanya kurang mantap

    • paibiopai said, on May 3, 2011 at 3:06 pm

      hehe,, memang aneh dunia ini mas.. kaki di kepala, kepala di kaki.. hihi

  6. Tea said, on May 2, 2011 at 7:48 pm

    hhihhhi … lucu nih. saya belajar tentang APBD gg sebut-sebut tentang batasan umur menikah hhohho

    • paibiopai said, on May 3, 2011 at 5:40 am

      hehe, mungkin APBD tiap daerah berbeda-beda deh, tergantung DPRDnya kurang kerjaan ato engga.. hehe

  7. oranjee said, on May 2, 2011 at 5:31 pm

    LOL baca artikel nyaa.
    speechless

    • paibiopai said, on May 3, 2011 at 5:39 am

      dari dulu sampe sekarang orang-orang nulis LOL tu saya ga tau artinye apa,, emang artinya apa siy hwa?

  8. ysalma said, on May 1, 2011 at 12:07 pm

    Baerarti usia seperti itu remaja udah bijak,,
    kalo belum, lihat APBD 2007๐Ÿ˜†
    # pengumuman itu dari APBD 2007, ini yang benar๐Ÿ˜‰

  9. Racoonmacoon said, on April 30, 2011 at 12:18 pm

    kok bisa ya ?
    ini malahan baru tau lo. haha

  10. Nova said, on April 29, 2011 at 11:32 pm

    hahhah..ada ada aja.
    penasaran, itu di daerah mana ya???

    • paibiopai said, on April 30, 2011 at 12:02 pm

      hehe,, di jawatengah pokokna mba, daerahnya sedang dirahasiakan.. xixi

  11. tejo said, on April 29, 2011 at 10:57 pm

    hmm, ndang rabi cak! haha.

    Pendapat ane agak ‘keluar’ ya tentang ini. Pertama ane kagak sepakat dengan istilah usia dewasa di plank itu, karena usia ane bilang kagak ada hubungannya dengan kedewasaan.

    Terus, tentang hubungan co-ce..hmm..ngikutin syariah tanpa ngerti esensinya juga percuma kata ane sih. Mau asal dinikahkan saja gitu bujang dan dayang itu, sementara pikiran mereka masih sebatas ngapdet status di fesbuk, komentar di wall, ngetweet, maen we dll?

    Bila dengan -sebut saja pacaran- bisa membangun sikap dewasa, buat ane ya lebih baik dijalanin tu pacaran. Sikap lho ya, seperti bertanggung jawab, gentle, menghargai wanita, dll. bukan perilaku -yang katanya dewasa- macam PDA di mana-mana, atau -naudzubillah- ML.

    Daripada dikekang, disuruh tilawah yaumian sehari satu juz, tapi diem-diem nonton film porno, atau dimasukin pondok tapi malah berubah haluan? Hanya contoh saja, tidak bermaksud menyinggung siapa-siapa.๐Ÿ™‚

    • paibiopai said, on April 30, 2011 at 12:01 pm

      hush, roba rabi aja ni omongannya, hihi..
      tul betul, ane tak setuju pula ma istilah usia dewasa disini.. naaahhh,, percuma juga klo syariah tak beresensi, tapi daripada tak bersyariah tapi beresensi, sama seperti minum khamr untuk menghangatkan tubuh, kan juga ga baik jo..
      naaaahhhh lagi, makanya jo, kita bangun pembinaan dari lingkungan keluarga kita, naah, supaya ada yang bisa membina dan dibina, butuh ada yang ngedampingin joo,, naahhh,, oleh sebab itu, ane tunggu undangan antm joo..๐Ÿ˜‰

      • tejo said, on May 1, 2011 at 1:20 pm

        premis ampe kesimpulannya ga nyambung cak. :))
        ente dulu lah, yang ada penghasilan, ada calon.
        Cikuciw!๐Ÿ˜‰

      • paibiopai said, on May 3, 2011 at 5:34 am

        widiii sebut sebutt.. seremmm.. hhe.. pokona mah, fastabiqul khairat jo.. xixi

    • Monika Oktora said, on May 16, 2011 at 4:53 pm

      buseeett penghinaan ni plangnya. suami daku nikah ga umur 25 woooyyy,, hahahaa… brarti dia ga bijak yaa??

      • paibiopai said, on May 17, 2011 at 10:48 am

        hehehe,, justru lebih bijak bu.. aheey, prikicieuw..

    • muthi said, on May 20, 2011 at 4:28 pm

      tedjo : tuh udah disebutin -sikap dewasa : bertanggunggung jawab dengan menikahinya, gentle dengan mendatangi keluarganya, menghargai wanita dengan tidak menyentuhnya sebelum halal. kikikik..

      selama yang saya dalami di dunia perpacaran dulu, hal2 diatas tidak pernah sy dapatkan. yang ada juga mikirin si doi terus, sms an sayang-sayangan, hiak..jijay bajay kalo dipikir2 mah. Apa pacarn yang kata tedjo bisa membangun sikap dewasa itu sudah terlaksana dengan baik? salut kalau ada yang bisa menjalankan dengan baik tanpa perilaku menyimpang. salut pisan lah si saya mah. saluuut.

      kalo tentang pengekangan itu setuju lah. setuju pisan.

      jadi baiknya gmn atuh? menurut saya peran pendidikan keluarga sangat berpengaruh terhadap mentalitas si anak ke depannya. penanaman tauhid pada sang anak, penjelasan mengenai baligh, interaksi, seks, dll. supaya si anak tak salah memutuskan. dan doa dari ortu tentunya, soalnya kita gatau arus pada zaman anak kita kelak seperti apa.

      dan itu dimulai dari memilih calon pasangan hidup yang baik, bukan? pasangan yang sama-sama berkomitmen untuk tidak bersedia dipacari sebelum menikah. wallahualam

      oia satu lagi
      “Mau asal dinikahkan saja gitu bujang dan dayang itu, sementara pikiran mereka masih sebatas ngapdet status di fesbuk, komentar di wall, ngetweet, maen we dll?”

      kayanya sedikit ga nyambung,

      • tejo said, on May 21, 2011 at 6:41 pm

        Oke, pertama-tama, nama saya udah pake EYD lho teh, hehe.

        Nah, tentang pacaran, saya yakin definisi pacaran luas dan sangat mungkin sekali apa yang saya maksud pacaran ini berbeda konteks dengan apa yang teteh maksud dan diskusi ini akan sama sekali tidak nyambung sampai akhir. Selain karena perbedaan konteks tadi, sangat mungkin juga kita udah sama-sama pake kacamata kuda dengan arah berbeda tentang hal ini, jadi ya kita ga bakal bisa ngeliat hal yang sama.๐Ÿ˜‰

        Eniwei, ini menurut saya:
        Pacaran lebih dari sekedar bertukar salam dan bermesra-mesraan entah via omongan, ym, twitter, fesbuk atau apapun. Niat awalnya adalah mengenal lebih baik orang yang mungkin bisa jadi pasangan kita. Belajar bertanggung jawab. Bila ternyata bukan, ada tanggung jawab pula untuk mengakhirinya dengan baik. Datang baik-baik, bergaul baik-baik, pulang pun baik-baik.

        Benar, pada prakteknya banyak menyimpang,seperti yang dicontohkan teteh (apakah itu penyimpangan, bila dikategorikan pembelajaran?Just ask ;)). Lantas apakah metodenya salah? Wah, ini bakal lebih panjang lagi, karena buat saya metode bisa sangat flexibel, tak bisa hanya dikategorikan ke dalam hitam dan putih. Dan saya tak berniat mengkategorikan hitam itu jelek, putih itu baik. Perlu dipelajari kasus per kasus. Karena bisa jadi ada hitam yang baik, pun ada putih yang jelek.

        Kuncinya ada di sini teh: proses. Trial & error. Itu yang berharga untuk dipelajari, oleh yang bersangkutan secara langsung, apalagi di usia yang menggebu-gebu untuk mencoba, yang mana apa kata orang akan susah untuk masuk, termasuk kata-kata orang tuanya sendiri. Tapi mungkin kata temen lebih gampang masuk, hahaha.

        Proses interaksi dengan lawan jenis perlu dilakukan dengan tidak berlebihan dan mempertimbangkan aspek manusiawi, karena kita manusia bukan malaikat. Bukan dengan ditakut-takuti, sedikit-sedikit dikasih ini halal itu haram,dsb. Bukan dengan dibatasi dengan hal yang malah menolak aspek manusia itu tadi, seperti tidak bertatapan ketika berbicara dsb. Saya lebih memahaminya secara kontekstual, bahwa dibalik semua aturan itu, maksudnya adalah kita menghargai lawan jenis dengan sebaik mungkin, memperlakukannya dengan adab dan tanggung jawab. Selebihnya adalah masalah budaya.

        Jadi menurut saya sih, berikan bumbunya dan biarkan si anak meraciknya. Agama sesuai tingkat pemahaman, dan bukan paksaan. Biarkan si anak melalui proses perjalanan mengenal siapa dirinya, siapa Rabb-nya dengan cara terbaik yang ia yakini, yang ia bisa dan sesuai untuk dia. Orang tua hanya mengarahkan, perkara diikuti atau tidak itu di luar kuasanya.

        Oh iya, pada akhirnya, teh muthi dapet sesuatu kan dari proses yang disebut jijay bajay itu? Kesimpulan “tidak mendapat apa-apa”, didapat setelah menjalaninya bukan?

        *untuk pai dan pembaca lain, maaf bila kepanjangan.*๐Ÿ˜€

    • muthi said, on May 23, 2011 at 8:32 pm

      tedjo : haha masih dengan EYD yang salah..maap bapak dan ibu tedjo,,ini adalah sesuatu yang disengaja๐Ÿ™‚ kikikik

      owkey..ngerti saya..ngerti sekarang maksud, definisi dari yang tedjo utarakan mengenai definisi pacaran..

      mungkin memang berbeda dengan maksud yang ingin sy sampaikan, saya menulis itu sekatekate karna berdasarkan pengalaman pribadi, isi otak dan sependek sy mendefinisikan arti pacaran.

      pertama, saya setudju bila ‘pacaran’ itu dilakukan tidak berlama-lama. dan memang dalam rangka untuk menikahinya, bukan coba-coba/ mengetes sejauh mana diri bertanggungjawab, karena menurut definisi sempit saya mengenai bertanggungjawab disini adalah dengan menikahinya.

      segala apapun akan menjadi baik bila sesuatu itu dapat mendekatkan diri denganNya..mengenai metode, bila kalimat di awal bisa digunakan sebagai acuan dan mampu, yo monggo wae dijalankan. selama yang saya alami, semakin sering interaksi dengan lawan jenis nonhalal semakin jauhlah kita denganNya. mungkin tidak berlaku untuk semua orang. Tapi..tapi..tapi..tapi..tahukan Anda bahwa 55% remaja di jabodetabek sudah melakukan ‘hal’ yang belum pernah dilakukan? itu yang ngaku. (apakah mungkin hal tsb tidak dilakukan tanpa interaksi yang sering dan periode waktu interaksi yang lama?)

      “Datang baik-baik, bergaul baik-baik, pulang pun baik-baik” -> dasar malebrain.. bgitulah,,,
      kalo sy selaku wanita normal, sy mengharapkan sesuatu yang datang baik itu tidak akan diakhiri tapi dimulai dengan sesuatu yang lebih baik lagi..yaitu menikah..hehe..
      “bila ternyata bukan? akhiri dengan baik2..” -> tuh kan dasar malebrain..

      Apakah itu penyimpangan bila dikatakan pembelajaran? hmm..maksudnya ‘menyimpang atas nama pembelajaran ya?’..pembelajaran juga kan caranya harus benar jow..jangan jadikan sebuah pembenaran dalam rangka pembelajaran…
      -karena hidup kita tidak akan pernah cukup untuk melakukan semua kesalahan seorang diri- so? belajarlah dari kesalahan orang lain, isn’t it?

      “Proses interaksi dengan lawan jenis perlu dilakukan dengan tidak berlebihan dan mempertimbangkan aspek manusiawi, karena kita manusia bukan malaikat. Bukan dengan ditakut-takuti, sedikit-sedikit dikasih ini halal itu haram,dsb. Bukan dengan dibatasi dengan hal yang malah menolak aspek manusia itu tadi, seperti tidak bertatapan ketika berbicara dsb. Saya lebih memahaminya secara kontekstual, bahwa dibalik semua aturan itu, maksudnya adalah kita menghargai lawan jenis dengan sebaik mungkin, memperlakukannya dengan adab dan tanggung jawab. Selebihnya adalah masalah budaya.

      Jadi menurut saya sih, berikan bumbunya dan biarkan si anak meraciknya. Agama sesuai tingkat pemahaman, dan bukan paksaan. Biarkan si anak melalui proses perjalanan mengenal siapa dirinya, siapa Rabb-nya dengan cara terbaik yang ia yakini, yang ia bisa dan sesuai untuk dia. Orang tua hanya mengarahkan, perkara diikuti atau tidak itu di luar kuasanya.” -> btul sekali btul.. dan dalam proses perjalanan seorang tedjo, tiba-tiba ia bertemu seorang muthi yang berkata ‘Nak, ayo menikah pacarannya jangan lama-lama’ (nahloh..jadi ksini..hehe)

      mengenai jijay bajai, memang itu adalah pengalaman muti pribadi yang tidak bisa disamaratakan dengan Pemirsa lainnya..Oia, ralat sy mendapatkan apa-apa ko jow dari hasil jijay bajai itu..yaitu saya tersadar bahwa tidak ada pacaran yang diridhai Allah dan sy merasa semakin jauh dengan Nya..

      *sy masih pake kacamata kuda ga ya? tapi sy sudah berusaha mengerti yg tedjo utarakan ko..hehe*

      numpang promo blog..(yg tara diupdate)
      http://muthiaaa.wordpress.com/2008/07/23/perangkap-syeitan-itu-bernama-cinta/

  12. nufri l said, on April 29, 2011 at 5:56 pm

    hahaaaa..baru tau saya…

  13. anna said, on April 29, 2011 at 5:33 pm

    hihi kamu salah pengertian Pai…

    maksud tulisan APBD 2007 di papan nama itu adalah.. bahwa pengadaan papan itu (biaya membuat papan nama) menggunakan anggaran tahun 2007..
    jadi konten dari papan nama itu gak diatur dalam APBD…

    contoh lain misalnya.. mobil dinas.. ada tulisan APBD 2009, berarti itu mobil dibeli dengan anggaran tahun 2009..

    gitu maksudnya…๐Ÿ™‚

    • paibiopai said, on April 30, 2011 at 11:58 am

      ooooooooooooooo,, iya ya, bisa jadi… hihi,, makanya heran saia napa ginian ada di apbd, heu

  14. arieyanie said, on April 29, 2011 at 5:19 pm

    kunjungan balik…

    hahahaha aneh juga nya, biasanya yang menyangkut soal pernikahan departeme nkesehatan atau sejenisnya.

    ngomong-ngomong ini daerah mana mas?
    hehehehe

    • paibiopai said, on April 30, 2011 at 11:57 am

      kalo daerahnya masih dirahasiakan mba, takut kenapa-kenapa.. hehe.. ini di daerah deket kampung mudik sayaa..

  15. Nchie said, on April 29, 2011 at 4:32 pm

    APBD …ngatur nikahan..
    oohh ada hubungannya toh ..*mudeng*..

    • paibiopai said, on April 29, 2011 at 4:46 pm

      agak susah juga siy mba nyari hubungannya
      kliatannya berkenaan dengan subsidi dana resepsi untuk yang ngadain resepsi nikah di daerah itu kali yak?

  16. dewifatma said, on April 29, 2011 at 4:16 pm

    APBD ngatur usia nikah..????

    Eeiiii…. *bingung nih..*

    • paibiopai said, on April 29, 2011 at 4:33 pm

      hihi,, biarin mba, daripada ga ada yang bisa dibikin apbd, mending diada-adain ajah kali yak

  17. paibiopai said, on April 29, 2011 at 4:00 pm

    hoo, iya y teh? kali aja beda arti,, apbd — aturan pernikahan dan belanja daerah #aslimaksa

    hehe, fokus sekolah ma pacaran juga skarang mah.. seiipp,, hindari zina, skalian nikah ajaa.. xixi

  18. Asop said, on April 29, 2011 at 4:00 pm

    Hahahaha, APBD di sini mungkin singkatan lain.๐Ÿ˜†

    • paibiopai said, on April 29, 2011 at 4:05 pm

      haha, iyo dek, bedo paling artine.. tapi melanggar HAM kui, heu

  19. dina.thea said, on April 29, 2011 at 3:44 pm

    hoo, daerah mana tuh? he eh ga nyambung ama APBD, jangan2 beda arti.

    kalo diitung2 usia 20 thn itu kuliah ya, jadi bisa dikatakan dewasa dan bisa nikah, sedangkan yg dibawah usia 20 thn, masih anak2 sekolah, diharapkan fokus ama sekolah.
    Benar juga sih, anak2 skrng mah dari usia sd sekalipun, asupan dewasa sudah masuk, makanya hindarilahh zina ( zina disini yah seperti menghindari melihat asupan dewasa) karena kalo sudah mendekati saja, buruk2nya bisa melakukan zina.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

status YM si saiyah

Komentar Man-Teman

Emmett on What happen after death ? -pat…
yanto on pohon cabe tumbuh ga pake tana…
Ahmad Akbar on Cerita Jawa: JaKa TingkiR
itz'chal was here on Cerita Jawa: JaKa TingkiR
pulsa on postingan pertama

Archives

My Photographs on Flickr

kembang

DSC00953-2 copy

102_2866 copy

More Photos

Blogroll

Internet Tips Download
%d bloggers like this: