blog pai poenja

AS menjajah Indonesia lewat NAMRU-2 ??

Posted in Gado-Gado CampuR aduK,, by paibiopai on October 23, 2009

Kok bisa sih lembaga riset di bawah otoritas militer negara lain beroperasi di wilayah Indonesia ? NAMRU hadir di sini sejak 1968. Memang, awalnya Indonesia yang mengundang mereka, tapi kemudian ngotot bertahan di sini. Selama periode tahun 2.000-2005, lembaga ini tetap beroperasi, kendati izinnya sudah habis.

Apakah NAMRU menjalankan misi terselubung di Indonesia; misal melakukan riset dan percobaan senjata biologi ?

PERNAHKAH Anda mendengar sesuatu mengenai NAMRU ? “Mahluk” aneh ini sangat mirip Kuda Troya dalam legenda Yunani. Ciri-cirinya : rambut pirang, tampang arogan, selalu membawa senjata api ke mana-mana, bebas berkeliaran di wilayah kedaulatan Indonesia; dan suka-sukanya saja kalau mau keluar masuk negeri yang kita cintai ini.

Diam-diam, dan benar-benar luput dari perhatian masyarakat Indonesia, ternyata NAMRU sudah 40 tahun bercokol di wilayah NKRI. Cobalah ingat-ingat, terutama bagi pembaca yang sudah berusia sekitar 40 tahun, pernahkah seumur hidup Anda mendengar sesuatu mengenai NAMRU ? Mungkin sekitar 99,9 % penduduk Indonesia tidak pernah tahu atau menyadari  kehadiran lembaga yang misterius ini. Nama lengkapnya adalah Namru 2.

Kenapa NAMRU bisa bercokol begitu lama di Indonesia ? Apa yang mereka cari di negara kepulauan ini, dan apa manfaat kehadiran mereka bagi Indonesia ? Dan, kenapa lembaga dari Amerika Serikat ini terkesan begitu misterius ? Banyak sekali pertanyaan yang tak terjawab mengenai lembaga riset ini. Dan aku berani memastikan, tak satu pun wartawan di Indonesia memiliki akses ke lembaga ini; malahan mungkin mereka pun tak pernah tahu keberadaan NAMRU.

Nama NAMRU tercetak di surat kabar dan mulai dibicarakan di kalangan yang sangat terbatas, baru dalam beberapa bulan ini. Beritanya pun sangat tidak menarik, lebih tepat disebut membosankan; karena yang ditonjolkan adalah tuntutan pemerintah Idonesia agar para peneliti di lembaga itu mentaati peraturan yang berlaku di Indonesia; termasuk ihwal pencabutan kekebalan diplomatik mereka. Sebuah tuntutan yang aneh dan menyedihkan, oleh sebuah negara yang berdaulat. Kenapa bukan Indonesia sendiri yang menegakkan aturan dan menjatuhkan sanksi tegas jika dilanggar ?

Berita tentang NAMRU baru memiliki magnitude besar ketika Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mencak-mencak. Pasalnya, dia sempat diharuskan menunggu sekitar 10 menit sebelum diizinkan masuk; ketika mengunjungi laboratorium milik lembaga itu secara mendadak.

“Saya disuruh menunggu 10 menit karena tidak melaporkan akan datang,”ujar Siti Fadilah kepada wartawan. Padahal, katanya dengan nada gemas,”Laboratorium mereka kan berada di tanah milik Departemen Kesehatan.”

Laboratorium NAMRU berada di komplek Balitbang Departemen Kesehatan di Jalan Percetakan Negara, Rawasari, Jakarta Pusat.

Laboratorium kuman, sejak tahun 1968

NAMRU 2 adalah singkatan dari The US Naval Medical Reseach Unit Two. Dari namanya saja sudah tercium aroma militer. Memang benar, lembaga riset ini berada di bawah otoritas Angkatan Laut Amerika Serikat. Wajar sekali kalau Anda bertanya : kok bisa sih lembaga riset di bawah otoritas militer negara lain beroperasi di wilayah Indonesia ?

Lembaga riset ini beroperasi di Indonesia sejak tahun 1968. Awalnya, Indonesia yang meminta mereka datang untuk meneliti wabah sampar di Jawa Tengah. Ternyata manjur. Berkat rekomendasi NAMRU, wabah sampar yang merajalela berhasil dijinakkan.

Dua tahun kemudian, terjadi wabah malaria di Papua. NAMRU kembali diminta bantuannya. Bahkan kali ini kehadiran mereka diikat dalam sebuah MOU, ditanda tangani oleh Menteri Kesehatan GA Siwabessy dan Duta Besar AS, Francis Galbraith.

MOU itulah yang menjadi landasan hukum laboratorium di bawah kendali Angkatan Laut AS itu terus bercokol di Indonesia, biar pun selama puluhan tahun tidak ada lagi wabah penyakit menular; dan biar pun tuan rumah tidak lagi membutuhkan bantuannya..

Dalam MOU itu dijelaskan, tujuan kerjasama adalah untuk pencegahan, pengawasan dan diagnosis berbagai penyakit menular di Indenesia. NAMRU diberikan banyak sekali kelonggaran, terutama fasilitas kekebalan diplomatik buat semua stafnya; dan izin untuk memasuki seluruh wilayah Indonesia.

Memang ada klausul dalam MOU itu, setiap 10 tahun kerjasama tersebut dapat ditinjau kembali. Belakangan, Indonesia memang merasa tertipu oleh perjanjian yang “amburadul” itu. Namun semua usaha yang dilakukan untuk mengontrol Namru 2 tidak satu pun yang berhasil. Buktinya, selama periode tahun 2.000-2005, lembaga riset ini tetap beroperasi, kendati izinnya sudah habis.

Kuda Troya di beranda rumah kita

Selama 40 tahun laboratorium kuman ini beroperasi di Indonesia, kehadirannya persis seperti siluman, dan pihak tuan rumah selalu merasa tak berdaya menghadapinya. Kalau semula NAMRU datang karena diundang untuk menolong, belakangan lembaga ini sendirilah yang ingin bertahan di sini, dan mulai bertindak semaunya.

Antara tahun 1980 dan 1985 pemerintah berusaha merevisi perjanjian dengan NAMRU. Namun selagi para pejabat kita memutar otak untuk membuat regulasi yang membatasi ruang gerak lembaga ini di Indonesia, NAMRU malah mendirikan laboratorium di Jayapura. Alasannya, untuk meneliti malaria di sana; padahal pada masa itu malaria bukan lagi masalah siginifikan di Irian Jaya.

Kemudian pada tahun 1991, AS menaikkan status NAMRU yang tadinya setingkat detasemen menjadi tingkat komando. Pada saat bersamaan status NAMRU di Filipina diturunkan, dan bahkan akhirnya ditutup pada 1994. NAMRU di Jakarta kemudian diberikan kedok sebagai lembaga riset kemanusiaan, dengan meminjam tangan WHO yang menetapkan NAMRU sebagai pusat kolaborasi untuk berbagai penyakit di Asia Tenggara.

Pada tahun 1998, Menteri Pertahanan/Panglima TNI, Wiranto mendesak pemerintah, agar kerjasama dengan NAMRU dihentikan. Wiranto menjelaskan di dalam rapat kabinet, kehadiran 23 peneliti lembaga AS itu—yang nota bene mendapat fasilitas kekebalan diplomatik, sangat tidak menguntungkan bagi kepentingan pertahanan dan keamanan Inonesia.

Kemudian pada 1999, Menteri Luar Negeri Ali Alatas menyurati Presiden BJ Habibie. Dijelaskannya, keberadaan NAMRU sangat berkaitan erat dengan Protokol Verifikasi Konvensi Senjata Biologi. Protokol itu akan membebani Indonesia, khususnya dalam hal deklarasi dan investigasi karena area investigasi yang ditetapkan harus seluas 500 kilometer persegi; sedangkan NAMRU ada di tengah kota Jakarta.

Selama ini, semua upaya yang dilakukan pemerintah untuk mengontrol NAMRU tidak pernah dipublikasikan, sehingga rakyat Indonesia tidak tahu apa-apa. Penduduk Jakarta pun pasti tidak pernah bermimpi bahwa sebuah laboratorium kuman terbesar di Asia Tenggara ada di kota mereka. Lokasi laboratorium ini di Rawasari, Jakarta, adalah kawasan padat penduduk dan dekat dengan pasar tradisional. Bayangkan kalau ada kuman berbahaya terlepas, penduduk akan mati konyol tanpa pernah mengerti apa yang terjadi.

Sejarah berulang, dari Tjut Njak Dien ke Siti Fadilah

Barulah setelah Menkes menggebrak, keberadaan NAMRU terungkap ke masyarakat luas. Selain melakukan kunjungan mendadak ke laboratorium itu, Menkes juga mengeluarkan kebijakan melarang semua rumah sakit di Indonesia mengirimkan sampel ke NAMRU.

Kegagahan Siti Fadilah seperti sejarah yang berulang. Ketika bangsa ini merasa tak berdaya terhadap kekuatan asing, akhirnya kaum perempuanlah yang merepet, menggebrak dan melawan. Dulu dipimpin Tjut Njak Dien di masa lalu, sekarang dipelopori Siti Fadilah.

Gebrakan yang dilakukan Menkes ternyata segera menular. Forum Pembela Tanah Air sempat menggelar unjuk rasa di DPR, kantor Menkes dan Departemen Luar Negeri. Mereka mendesak agar NAMRU lebih transparan agar tidak muncul dugaan-dugaan yang tidak benar. Inilah pertama kalinya selama 40 tahun masyarakat Indonesia bereaksi terhadap kehadiran NAMRU..

“Selama ini saya tidak tahu apa-apa yang dilakukan NAMRU, hanya tahu sebagian kecil aktivitas mereka,”tutur Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari kepada Kompas. “Selama ini NAMRU jalan sendiri, mereka punya program sendiri. Ke depan mudah-mudahan lebih transparan. Kalau mau kerjasama, MOU harus saling menguntungkan, jelas untuk rakyat.”

Menkes mengakui, dalam pencegahan wabah flu burung pada tahun 2005 NAMRU yang mempekerjakan 60 peneliti dan staf, cukup berperan. Namun dari seluruh pernyataannya, tersirat betapa gemasnya Menkes karena kekuasaannya sebagai menteri ternyata tidak mempan untuk mengontrol lembaga riset itu. Betapa kedaulatan Indonesia diinjak-injak oleh lembaga milik negara adidaya AS itu.

NAMRU memang tak tersentuh.

Oleh : Robert Manurung

menurut kalian??

11 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. tejo said, on October 25, 2009 at 9:21 pm

    hehehe, mana ada kucing yang mau ngelepas ikan di depan mata pai, apalagi pas laper-lapernya.
    Dan Indonesia, adalah ikan terlezat di mata kucing-kucing dunia.

    Eniwei,,janjinya Bu Endang sih . .

    http://kesehatan.kompas.com/read/xml/2009/10/23/14082249/menkes.namru.ditutup.iuc.jalan

    Tapi, ya dipikir-pikir sih, emang ada makan siang gratis ?
    Pasti semuanya ada kepentingannya masing-masing.
    Apalagi kalo udah nyangkut yang namanya uang.
    Tinggal pinter-pinter milih : gimana nanti atau nanti gimana . . .
    hehehe

    • paibiopai said, on October 26, 2009 at 9:12 am

      nah masalahnya jo, kan IUC maw dibuka tu ngegantiin NAMRU,,
      sekarang, kenapa kudu dibuka IUC coba, padahal di Eijkman juga punya fasilitas BSL-3 untuk penelitian virus dan infectious disease lainnya,, kenapa g itu yang diperkuat, bukan malah membuka institusi penelitian lainnya yang “menggantikan” NAMRU ???

      • tejo said, on October 26, 2009 at 11:23 pm

        hehehe, kan ga ada rekanan proyeknya di Eijkman.. 0_o
        pastinya kan butuh sponsor lah untuk penelitian-penelitian gitu.
        Alat-alatnya habis berapa, belum harus ngambil sampel, terus bahan-bahan di lab dll…Emang mahal MGBM itu.. :b

        Sekarang kembali ke pemerintah kita. Punya duit ga buat penelitian ? Saya rasa sih duit yang ada sekarang, entah dipake buat kebutuhan yang dirasa lebih mendesak, yaa ditilep, hehehe. Mungkin uangnya dipake untuk program kesehatan yang lebih mendesak, ga tau juga sih..

        Pastinya bikin kantong jebol kalo kita yang full take charge, apalagi eijkman kan lembaga non-profit, Eh iya ga sih ?

        Memang, paling sesuai dengan keadaan sekarang ya lembaga yang sifatnya rekanan,,walau mungkin independensinya agak susah dijaga.

        eniwei, biasanya sih kalo udah ganti nama, ga ada yang protes. Kan biasanya yang diliat judulnya doang😉

      • paibiopai said, on October 27, 2009 at 7:52 am

        nah ntu diya jo,,
        kenapa ga dibikin ajah pengembangan fasilitas yang ada dari yang sudah institusi yang sudah ada,, selain itu di LITBANGKES juga ada kok fasilitas kaya di eijkman, padahal LITBANGKES itu sendiri punyanya kementrian kesehatan,, trus knapa ga ngembangin fasilitas punyanya sendiri ajah gitu, meskipun bentuk kerjasamanya masih sama AS..

  2. njulita said, on October 25, 2009 at 11:13 am

    papi robert memang oke juga yaa..
    pai, njul share linknya di FB yaa..
    biar pada baca..

    • paibiopai said, on October 26, 2009 at 9:13 am

      mangga njul, biar bisa sama2 baca..

  3. dpujia said, on October 23, 2009 at 5:06 pm

    mulai 16 oktober 2009, NAMRU-2 sdh ditutup. kerenlah bu Siti Fadhilah. mudah2an menkes yang sekarang bisa segagah dan seberani bu Siti Fadilah.

    • paibiopai said, on October 23, 2009 at 6:58 pm

      menkes yang sekarang tu dulu peneliti di namru,, katanya udah g ada lagi kerjasama ma namru, tapi entah klo dalam bentuk lain,, sama aja kali kalo cuma ganti nama doank, klo yang punya cewek ya namru diganti jadi namri ato namruwati, haha

      • iqbal said, on October 26, 2009 at 10:28 am

        hehehe…
        mana ada orang dah punya hubungan lama tiba2 ga punya hubungan lagi.
        katnay menkes yang baru (bu endang) ditolak ama peternak ayam di tasikmalaya gara2 ga transparan soal hasil pemeriksaan sampel darah hewan ternak mereka yang diambil ketika wabah virus burung merebak. para peternak ga diberi tahu mengenai hasil pemeriksaan tersebut. hal tersebut semakin mencurigakan karena keterlibatan penmeliti dari WHO n USA, katanya sampel darah dibawa k atalanta, USA.
        makin ga suka awak ama menkes yang baru ni
        semoga aja protes Komisi IX DPR RI dapat dan rakyat diterima oleh presiden SBY.

      • paibiopai said, on October 27, 2009 at 7:56 am

        (^c^)b pai likes this bal !!
        hehe

        hmm, kita lihat bagaimana 100 hari pertama sepak terjang kabinet yang ada..

  4. muthi said, on October 23, 2009 at 4:30 pm

    whooooooaaa..ini yang nulis bapak robert manurung..

    mari kita kaum wanita menggebrak dunia!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

status YM si saiyah

Komentar Man-Teman

Emmett on What happen after death ? -pat…
yanto on pohon cabe tumbuh ga pake tana…
Ahmad Akbar on Cerita Jawa: JaKa TingkiR
itz'chal was here on Cerita Jawa: JaKa TingkiR
pulsa on postingan pertama

Archives

My Photographs on Flickr

kembang

DSC00953-2 copy

102_2866 copy

More Photos

Blogroll

Internet Tips Download
%d bloggers like this: